Dalam Keheningan Senja Wednesday, Jun 4 2008 

senja bersama kalian semua.

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Seperti biasa, energy itu begitu menggebu ketika anak kurangajar itu datang dan menangis dalam pelukan saya (ndak papa toh nduk, rasah malu-malu, wong papamu sendiri ini). Namun sekarang, dia terlihat begitu tegar, begitu kuat. Saya bangga bahwa dalam hidup saya, saya pernah melihat begitu banyak bintang yang bersinar dimata anak ini.

Sayang, tidak selamanya kehidupan berfihak pada hal-hal yang manis saja. Demikian juga ketika kehidupan kita mulai menjajaki senja. Ketika melihat kehidupan mu nduk, papa melihat bintang, (kalau kata ndoromu opo nduk?, Pelangi?, ya, kamu pelangi papa). Sekarang nduk, melihat mamamu, begitu rapuh dan menderita nduk, papa sering trenyuh sendiri. Mbok ya biar papa ajah yang sakit jangan mamamu, nduk.

Tapi sayang yah, kita ndak bisa milih, walaupun kata orang, hidup itu pilihan. Lah, nek bisa milih, papa mending milih biar papa aja yang sakit, jadi mamamu yang ngerawat papa. Ndak tega nduk mendengar mamamu merintih kesakitan, tanpa papa bisa berbuat apa-apa.

Wis nduk, hari sudah senja, memang seharusnya tubuh ini beristirahat. Papa ndak mungkin sering-sering menulis disini, tapi papa pasti baca tulisan kamu terus. Life is like a cokro penggilingan kalau kata pakdhemu, jadi mesti pinter-pinter menjalani hidup. Jangan gegabah, jangan juga takabur. Nikmati saja dengan selalu bersyukur, what ever it is look like. Even it is worse, just be grateful.

Banyak-banyak berdoa nduk. Dekatkan dirimu pada Sang Empunya kehidupan ini, DIA yang akan menolongmu menemukan “jalan pulang”, ketika kamu tersesat.

Ndak usah khawatir soal mama, ada papa toh, he…he…he

Wis nduk, mamamu hari ini kontrol lagi, moga-moga kali ini lebih baik ya nduk.

Keep your heart humble down to earth.

-PS-

Menembus Keterbatasan Monday, Apr 14 2008 

Om bosan disebut menye-menye ama anak kurangajar ini (belajar bikin link, nduk, semoga berhasil, hahahaha) maka om coba posting sesuatu yang menye-menye kwadrat, semoga kamu menye-menye nduk. Papa ndak tau apa kamu udah pernah papa kirimi email ini. Tapi email dari teman papa ini bagus sekali nduk, tadi papa coba-coba cari dari folder inbox, nemu ini.

Selamat menye-menye, :-)

PS

+++++++++++++++++++++

Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya.

Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak  Korek
api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu?

Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak Korek
api saja!

Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.

Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia
mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia
mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu
akan kemampuannya sendiri.

Ia mulai berpikir, “Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya
segini.”

Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman.

Dia tidak membentur.

Saat itulah dia menjadi sangat yakin, “Nah benar kan? Kemampuan saya
memang cuma segini. Inilah saya!”

Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih  terus
merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api.

Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang
sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh
lingkungannya.

Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api.

Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai.
Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia
sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat
tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung.

Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda.

Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api.

Coba ingat, ketika dia bicara begini, “Ngapain sih kamu kerja keras
seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok.”

Ingat! Mereka adalah kotak korek api.

Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.

Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna,
tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya.

Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan
kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-
hari.

Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action
untuk menembus kotak korek api itu.

Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di bawah rata-rata ia mampu
menjadi presenter di televisi.

Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan “gagu”
dia mampu lulus dari Harvard University.

Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu
menjadi “raja” komputer.

Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun mampu menjadi
motivator nomor satu di Indonesia.

Contoh lain Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah menjadi seorang
pengasong, tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak
menghambatnya untuk terus maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau
pernah menjadi eksekutif di salah satu perusahaan ternama.

Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan
setelah usianya lewat 65 tahun.

Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika
usianya sudah lebih dari 62 tahun.

Nah, bila anda masih terkungkung dengan kotak korek api, pada hakekatnya
anda masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba, Helen Keller, Andre
Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela adalah orang yang mampu
menembus kungkungan kotak korek api.

Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus
berbagai keterbatasan.

Winner vs Looser Sunday, Apr 13 2008 

Nduk,

Papa ndak peduli blog ini kamu bilang isinya menye-menye atau tidak pokoknya apa yang papa mau tulis yo papa tulis, ndak boleh protes. Ndak perlu itu dibilang blogger cerdas, kan papa juga mo ngikutin jejak kamu, biar cepat tenar, hahaha…

Wis toh nduk, papa ini dah bau tanah kata kamu, jadi yo ndak perlu ngetop-ngetop. La wong ndak ngetop aja papa udah pusing sama yang kagum sama kegantengan papa toh. Rambut putih itu jimat loh nduk. Teman kamu juga suka kan rambut papa (mengedipkan mata).

Nduk, papa baca buku tentang Winners vs Looser, bagus sekali. Nanti papa pinjamkan. Isinya kalau papa perhatiin mengena banget sama seperti buku “The Secret” kamu itu, bahwa being POSITIVE itu it’s about our mind set.

Ini intinya,

For the Winner : It’s always part of the answers.
But the Looser : it’s always part of the problem.

The Winner Always : seek an answer from every problem.
But the Looser always : seek a problem from every answer.

The Winner Always say it maybe difficult but it’s possible,
But the Looser always say it maybe possible but it’s to difficult.

The Winner Always use hard argument & soft word,
But the Looser use soft argument & hard word.

The Winner Always say lets make it happen,
But the Looser always say let it happen.

So, the choice is in your hand. And remember, life is about Choice. Whether you choose to be The WINNER or The Looser, it’s your right to choose.

Think a hundred times before making a little step, nduk, because A BIG STEP is started with just a simple little step.

Be careful nduk, and take a very good care of your self. Respect your self, and respect others as you repsect your self as well.

Warmest hugs,

PS