senja bersama kalian semua.

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Seperti biasa, energy itu begitu menggebu ketika anak kurangajar itu datang dan menangis dalam pelukan saya (ndak papa toh nduk, rasah malu-malu, wong papamu sendiri ini). Namun sekarang, dia terlihat begitu tegar, begitu kuat. Saya bangga bahwa dalam hidup saya, saya pernah melihat begitu banyak bintang yang bersinar dimata anak ini.

Sayang, tidak selamanya kehidupan berfihak pada hal-hal yang manis saja. Demikian juga ketika kehidupan kita mulai menjajaki senja. Ketika melihat kehidupan mu nduk, papa melihat bintang, (kalau kata ndoromu opo nduk?, Pelangi?, ya, kamu pelangi papa). Sekarang nduk, melihat mamamu, begitu rapuh dan menderita nduk, papa sering trenyuh sendiri. Mbok ya biar papa ajah yang sakit jangan mamamu, nduk.

Tapi sayang yah, kita ndak bisa milih, walaupun kata orang, hidup itu pilihan. Lah, nek bisa milih, papa mending milih biar papa aja yang sakit, jadi mamamu yang ngerawat papa. Ndak tega nduk mendengar mamamu merintih kesakitan, tanpa papa bisa berbuat apa-apa.

Wis nduk, hari sudah senja, memang seharusnya tubuh ini beristirahat. Papa ndak mungkin sering-sering menulis disini, tapi papa pasti baca tulisan kamu terus. Life is like a cokro penggilingan kalau kata pakdhemu, jadi mesti pinter-pinter menjalani hidup. Jangan gegabah, jangan juga takabur. Nikmati saja dengan selalu bersyukur, what ever it is look like. Even it is worse, just be grateful.

Banyak-banyak berdoa nduk. Dekatkan dirimu pada Sang Empunya kehidupan ini, DIA yang akan menolongmu menemukan “jalan pulang”, ketika kamu tersesat.

Ndak usah khawatir soal mama, ada papa toh, he…he…he

Wis nduk, mamamu hari ini kontrol lagi, moga-moga kali ini lebih baik ya nduk.

Keep your heart humble down to earth.

-PS-